Site icon DR. H. IRWAN, S.IP.,MP Untuk KALTIM

PANGGILAN DESA

Panggilan Desa

“Desaku yang telah ku tinggalkan, lamaku pergi jauh kini, kampung halamanku kenang jua, sampai ku pulang kembali.” Tiba-tiba terdengar suara merdu perempuan tua dari handphone di tanganku.

Kami berlima anaknya mendadak diam mendengarkan. Tak lama suara merdu itu kembali terdengar dari perempuan tua yang kami lihat di masing-masing layar handphone sedang memandang langit-langit rumahnya.

“Kini, ku jauh di rantau orang, bukit desaku tetap terkenang, sanak dan saudaraku terbayang, hidup rukun dan damai.” Dia pun berhenti menyanyi sambil matanya yang indah memandang layar handphone-Nya.

“Itu lagu kesenangan bapakmu. Jika bapakmu menyanyikan lagu, pasti dengan hati. Sesuai dengan apa yang dia rasakan, maka terdengar indah bagi semua yang mendengarkan. Bapakmu suka ikut lomba mengaji, adzan juga menyanyi di pesta keluarga.” Demikian ibuku mengenang almarhum ayahku.

Kita semua berenam dalam sebuah video panggilan keluarga. Ibuku dan aku beserta satu orang saudara laki-laki (Agusriansyah Ridwan) dan tiga orang saudara perempuanku (Dede Nurdewi, ADe Nurdeli, Anya). Dulunya video panggilan keluarga kami bertujuh, tapi sejak Oktober 2023 tinggal ber-enam. Adik perempuanku Purnama Indah meninggalkan ibuku dan kami berlima sudaranya selamanya.

Mendengar cerita ibuku tentang lagu “Panggilan desa” kesenangan ayahku. Aku ambil handphone-ku satunya, searching google. Ternyata selera lagu ayahku lumayan juga untuk anak desa yang merantau ke Sangkulirang Kalimantan Timur (Kaltim) dari Palakka, Sulawesi Selatan. Panggilan desa itu lagunya, Yasir Syam yang dinyanyikan Ernie Djohan sekitar tahun 1967.

Sebagai perantau saat itu, rupanya ayahku sangat merindukan kampung halamannya. Seperti lirik lagu itu, dia pergi jauh, dia terasing, tapi dia tak pernah lupa kampung halaman dan saat itu sering pulang berkumpul dengan sanak saudaranya.

Mendengar suara ibu menyanyi, membuat kami berlima tanpa aba-aba meneteskan air mata. Kami tahu ibu rindu almarhum ayah, terlebih kami anak-anaknya juga rindu ayah. Bukan saja rindu ayah, tapi kami saling merindukan semua sesama saudara.

Kami memang diwariskan nasihat almarhum ayah kami agar bisa menjaga ibu dan juga saling mengasihi dan menjaga komunikasi dengan sesama saudara. Kami merawatnya dengan panggilan video keluarga. Sekali panggil, maka ibu dan kami berlima akan terhubung dalam sebuah visual yang indah.

Percaya atau tidak. Panggilan video ini hampir tiap hari, siang malam. Tidak ada paksaan, yang sedang sibuk tidak harus masuk, jika waktu longgar silahkan masuk. Tetapi inilah yang membuat kami selalu terhubung dengan hati dan jiwa sampai saat ini. Memelihara harta terindah di dunia. Ibu dan saudara-saudari.

Kita semua anak-anaknya sudah memiliki keluarga. Sudah punya tanggung jawab masing-masing. Tetapi keluarga tetaplah keluarga. Ayah, ibu dan saudara adalah harta tak ternilai. Yang telah pergi apalagi yang masih hidup di dunia.

Kami merayakan berkumpul biasanya di momen-momen tertentu. Tidak hanya sekali apalagi saat lebaran tetapi juga di momen-momen yang lain. Yang wajib adalah pulang kampung. Itu panggilan jiwa, panggilan desa seperti lagu kesenangan ayahku. Kalau kami pulang kampung Sangkulirang, kami selalu ziarah kuburan ayahanda.

“Tapi saat pun telah tiba jua, ku harus pulang ke kampungku, menurut panggilan desaku, untuk berkumpul kembali.”

Ibuku kembali berdendang melanjutkan bait lagu panggilan desa. Aku melihat di layar handphone-ku, ada tetes air mata kerinduan yang besar di sudut mata indah ibuku. Mungkin rindu pada almarhum kekasihnya atau kami anak-anaknya.

Peluk cium jauh untuk ibuku tercinta.
Al Fatihah untuk almarhum ayahku H. Ridwan dan adikku Purnama Indah.

Dr. H. Irwan, S.IP., MP

Exit mobile version