SENDIRI BELUM TENTU SEPI
Menyendiri adalah salah satu pilihan favorite sekian banyak manusia di saat ingin fokus berpikir, tidak ingin diganggu ataupun ada satu keinginan besar yang ingin dicapai.
Saya sendiri pernah menyendiri begitu lama. Hampir tiap malam menghilang dan pergi seorang diri tanpa diketahui oleh siapapun saat ayahku meninggalkanku untuk selamanya di dunia ini.
Bahkan semasa ujian sekolah menengah pertama di kampungku dulu pernah aku menyendiri di atas pohon bakau sambil membaca buku pelajaran yang akan diujikan sampai tidak menyadari bahwa pohon itu sudah terendam air laut yang sudah pasang besar.
Temanku lebih ekstrem lagi dia pergi menyendiri bersemedi di kuburan hanya karena ingin mendapatkan ilmu kanuragan gerakan kilat seperti wiro sableng tokoh jagoan yang dibacanya dari buku sewaan di pelabuhan Sangkulirang saat itu.
Lalu bagaimana cara menyendirinya Rasulullah SAW sebagai suri teladan dari semua umat muslim. Ternyata baginda Rasulullah SAW sangat suka dan sering menyendiri. Bahkan Al Qur’an yang sering kita baca awalnya turun saat Rasulullah SAW sedang menyendiri.
Muhammad SAW selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk menyendiri (berkhalwat) bersama Kekasihnya (Allah SWT), setiap penghujung malam Rasulullah SAW selalu menghadap kepada Rabb nya, bermunajat, berdo’a dan tunduk pasrah kepadaNya dengan berdiri, duduk ataupun sujud hingga malam menghampiri terang bahkan sampai tapak kakinya merekah.
Aisyah RA pernah bertanya, ‘’Kenapa engkau melakukan semua ini ya Rasulullah padahal Allah SWT telah memberikan ampunan bagimu atas dosa-dosa-mu yang telah lalu dan yang akan datang?’’ Rasulullah SAW menjawab singkat. “Apakah tidak boleh jika aku termasuk hamba yang bersyukur”. HR. Bukhari.
Ternyata menyendiri itu sangat baik bagi kita umat muslim saat tempat, waktu dan niatnya tepat. Menyendiri dalam rangka untuk lebih dekat kepada Allah SWT adalah bagian dari bukti hamba yang bersyukur. Bukan justru menyendiri dalam rangka kemusyrikan ataupun keputus asaan.
Apalagi jika menyendirinya di tengah malam, mengambil wudhu kemudian dirikan sholat dan doa. Dimana kita memutuskan sementara waktu hubungan dengan kecintaan sifat duniawi. Kata Ustadz itu akan melatih diri kita untuk tidak begitu mencintai dunia, memasrahkan diri dengan jiwa yang kembali kepada Rabb yg Maha Tinggi.
