Dari Oxford ke Indonesia: Refleksi tentang Ilmu Pengetahuan dan Peradaban. Ingatan saya tentang Oxford masih begitu hangat dalam benak. Aroma dahaga pengetahuan, langkah-langkah tenang para akademia, hingga dengungan percakapan intelektual di setiap sudut, masih melekat kuat dalam ingatan. Meski lebih dari seminggu telah berlalu sejak saya kembali dari London, berbagai momen berkesan selama berada di sana terus hidup dalam pikiran saya.

Pada pertengahan Juli lalu, saya berangkat ke London untuk sebuah tujuan istimewa, mengantar anak saya mengikuti program summer course di Oxford University. Universitas ini bukan sekadar institusi pendidikan tinggi, melainkan salah satu universitas tertua dan paling berpengaruh di dunia, sebuah centre of excellence yang telah menjadi tempat lahirnya begitu banyak pemikir besar dunia.
Di balik arsitektur bangunan bersejarah dan lingkungan akademik yang dinamis, Oxford menyimpan semangat intelektual yang abadi. Tak berlebihan bila kota ini disebut sebagai The City of Spires, di mana menara-menara pengetahuan menjulang tinggi.
Sebagai orang tua, saya tentu merasa bangga melihat anak saya mendapat kesempatan untuk menimba ilmu di lingkungan yang begitu luar biasa. Tapi di balik kebanggaan itu, tanpa saya sangka, perjalanan ini juga membuka ruang pembelajaran baru bagi saya pribadi. Bukan hanya tentang dunia akademik, tetapi juga tentang sejarah, peradaban, dan nilai-nilai luhur yang tak lekang oleh masa. 
Di sela-sela waktu yang ada, saya menyempatkan diri berkunjung ke salah satu tempat paling bersejarah di Oxford, yaitu Bodleian Library. Perpustakaan ini telah berdiri sejak awal abad ke-17 dan menjadi salah satu perpustakaan tertua di Eropa.
Dari luar, bangunan kokoh itu sunyi tak menampakkan emosi, nyaris tak berubah sejak ratusan tahun lalu. Tidak banyak hiasan mencolok, tidak pula gemerlap digital. Justru dalam keheningan itulah, saya merasakan kekuatan besar yang tersimpan, di mana ilmu pengetahuan yang dijaga dan dirawat dengan penuh penghormatan lintas generasi.
Begitu saya melangkah masuk ke dalamnya, rasanya seperti masuk ke lorong waktu. Rak-rak tinggi menjulang, penuh dengan buku-buku tua yang berjajar rapi. Aroma kertas tua yang khas menyergap indra saya, seolah membawa saya menelusuri jalan panjang peradaban dunia. Di dalam keheningan perpustakaan itu, ada sesuatu yang bergerak dalam hati saya. Rasa takjub, rasa hormat, dan rasa syukur.
Bodleian bukan sekadar tempat menyimpan buku, kitab, dan catatan sejarah. Ia adalah penjaga nilai, benteng sunyi yang melindungi nilai-nilai peradaban yang agung nan mulia.
Di tempat inilah saya mendengar sebuah kisah yang hingga kini terus terngiang dalam pikiran saya. Kisah yang sederhana, tetapi sarat makna dan pelajaran.
Diceritakan, pada masa Perang Saudara Inggris tahun 1645, Raja Charles I datang ke Bodleian Library. Sebagai raja, ia tentu memiliki kuasa tak terbantahkan. Ia tak datang dengan tangan kosong, melainkan membawa mahkota, yang pada saat itu menjadi simbol kekuasaan tertinggi. Di sana, ia hanya meminta satu hal yang tampak sederhana, yakni meminjam sebuah buku dari perpustakaan.
Namun, yang ia terima bukanlah jawaban yang tunduk pada kekuasaan, melainkan ketegasan terhadap prinsip yang tak bisa ditawar. Buku tidak boleh dipinjam, hanya boleh dibaca di tempat.
“Buku ini takkan keluar dari sini, sekalipun untuk seorang raja.”
Saya membayangkan peristiwa tersebut, lalu membatin dalam hati, betapa majunya peradaban pada masa itu. Bahwa hukum dan ilmu pengetahuan dijunjung lebih tinggi daripada kekuasaan. Bahwa takhta tidak selalu mampu menundukkan aturan, apalagi nilai-nilai.
Mendengar kisah itu, saya terdiam cukup lama sambil menatap pilar-pilar yang telah melihat begitu banyak zaman berlalu. Usianya bahkan lebih tua dari Republik kita. Seketika pikiran saya terbang ke Tanah Air tercinta, Indonesia. Bagi saya, kisah ini menjadi pembelajaran berharga tentang mutu peradaban yang sejati. Di tengah perang pada masa itu, masih ada tempat, di mana aturan dan martabat pengetahuan dijaga tanpa kompromi, bahkan untuk kekuasaan tertinggi.
Momen itu membuat saya terus merenung. Kita sering mengukur kemajuan bangsa dari sisi pembangunan fisik atau pertumbuhan ekonomi. Tapi sesungguhnya, indikator tertinggi dari kemajuan adalah saat hukum dan ilmu pengetahuan dihormati lebih dari kekuasaan. 
Saya lalu berjalan perlahan menyusuri sudut-sudut Bodleian. Menyentuh dinding-dinding batu yang telah berdiri kokoh selama lebih dari empat abad. Di sela waktu, saya sempat mengabadikan beberapa foto dan video bangunan bersejarah itu. Tapi lebih dari sekadar gambar, saya ingin membawa pulang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai tentang keteguhan, integritas, dan keberanian menjunjung prinsip. 
Di tengah momen tersebut, saya menyempatkan diri menyampaikan pesan singkat kepada anak-anak saya.
“Nak, ingat selalu ya…
Kekuasaan bisa berakhir.
Tapi pengetahuan akan abadi.”
Kalimat itu sederhana. Tapi saya berharap ia mengingatnya sepanjang hidup. Bahwa apa pun jalan yang ia pilih kelak, ia tak pernah melupakan pentingnya menjunjung nilai, menjaga integritas, dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai salah satu pedoman penting. Karena pengaruh sejati tidak lahir dari jabatan atau kekuasaan, tapi dari kebijaksanaan yang terus diasah dan dihidupi.
Dalam dunia yang serba cepat, instan, dan kadang lupa pada akar, kisah seperti ini memang terasa langka. Tapi justru karena langka, maka kisah seperti inilah yang perlu terus kita jaga dan wariskan. Kepada anak-anak kita. Kepada generasi penerus bangsa. Agar mereka tidak hanya tumbuh menjadi cerdas, tetapi juga berani menjunjung prinsip dan menghormati nilai-nilai kebenaran.
Sebagai seorang ayah, saya merasa kembali belajar dari sejarah. Dan sebagai seorang anak bangsa, saya melihat harapan. Harapan bahwa Indonesia kelak akan menjadi bangsa besar yang memuliakan hukum dan ilmu pengetahuan. Bukan hanya karena kita ingin terlihat maju di mata dunia, tetapi karena kita sungguh percaya bahwa peradaban yang besar hanya lahir dari keberanian menjaga nilai.
“Barang siapa menginginkan kebaikan dunia, adalah dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan kebaikan akhirat, adalah dengan ilmu.” 
Bang Haji Irwan