Banyak yang bertanya ke saya siapa itu Wulan? Mengapa dia menangis? Labuan bilik dimana? Kampungnya kok terlihat terisolir? Kok saya sering pergi kesana? dan masih banyak pertanyaan lainnya pasca saya menuliskan dan upload foto tentang Wulan.

Labuan Bilik adalah nama sebuah dusun kecil di Desa Sandaran, Kecamatan Sandaran Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur, Negara Republik Indonesia.

Sejatinya Labuan Bilik adalah tempat yang indah. Terletak di pesisir paling timur Borneo, dipagari gugusan luas dan tebal vegetasi mangrove primer dan lautnya penuh terumbu karang terbaik dunia dengan pasir pantai nan putih.

Tidak cukup banyak yang tahu tempat ini. Bahkan pejabat setingkat kepala desa dan camat pun jarang berkunjung ke tempat ini. Dusun yang dihuni 50 kepala keluarga ini seperti tak terurus di negeri ini. Bahkan bidan pun tak mereka miliki, itu pula penyebabnya di tempat ini kematian ibu dan anak cukup tinggi.

Beberapa kilo dari kampung ada satu sekolah SD, yang lokasinya di wilayah perkebunan sawit dan rata-rata muridnya untuk pekerja perusahaan sawit dan anak kampung Labuan Bilik bersekolah disana. Itu pula yang menyebabkan tidak jarang anak Labuan Bilik putus sekolah dan kemudian menikah muda.

Beberapa teman Wulan yng usianya lebih tua darinya bahkan sudah duluan menikah muda saat mereka masih sekolah dasar kelas 5 atau 6 SD. Mereka berhenti sekolah ataupun tidak lanjut ke sekolah menengah, karena sekolah yang jauh dari kampung, orang tua yang miskin dan juga menikah muda.

Wulan anaknya pendiam. Sejak saya bertemu 7 tahun yang lalu. Tapi setiap saya datang tiap tahun baru ke Labuan Bilik tidak sekalipun Wulan tidak hadir. Pada saat itu biasanya, kami membagi alat tulis, makanan dan bermain bersama mereka. Wulan begitu bersemangat ingin belajar.

Saya sangat yakin mengapa tiba-tiba saat saya menyampaikan akan mengurus sekolahnya. Maka seketika itu pula, Wulan menangis mendekap ibunya. Tangisnya tak tertahankan dan membuat kami semua ikut sedih dan menangis. Saya tahu dia pasti memiliki traumatik terhadap apa yang terjadi dengan kakak-kakak perempuan di kampungnya. Wulan khawatir berhenti sekolah, karena tak punya biaya atau pun menikah muda seperti kawan-kawannya. Dia begitu bersemangat ingin sekolah sampai kuliah.

Labuan Bilik memang masuk kategori dusun yang sangat tertinggal bahkan terpencil. Rata-rata rumah warganya ukurannya kecil terbuat dari rumah kayu dengan dinding papan kelas kuat dua dan kelas awet dua dengan atap daun rumbia. Dalam 7 tahun saya kesana selama akhir tahun hampir tidak ada yang berubah sama sekali.

Terlepas dari semua itu Labuan Bilik tetaplah kampung nan indah dan penuh rindu. Saya pasti akan kembali dan kembali ke sana. Saya akan membangun tempat penuh kisah bersama sodara-sodaraku ini. Tentu saya mulai dengan merehabilitasi puluhan rumah tidak layak huni disana.

Membangun perpustakaan untuk anak-anak di Labuan Bilik, agar mereka bisa pintar dan mengenal dunia luar. Dan saya ingin mereka tidak terisolasi lagi dengan adanya jalan dari Manubar yang menghubungkan mereka nanti dengan Ibu Kota, Kutai Timur.

Banyak alasan untuk saya terus kembali dan membangun kampung ini. Tapi semua itu ingin aku persembahkan untuk sodaraku Uya Kasa Sagena dan sodariku Tetty Veronica Nainggolan yang telah dulu pergi, untuk anakku Wulan dan kawan-kawannya.

Untuk anak-anak kandungku sendiri Kayyisah, Ukkasyah dan Ayshlynn. Anak-anak kita semua harus punya masa depan yang lebih baik, karena itu hak waris mereka. Tentu kita semua harus berpikir, bersuara dan bertindak. Jangan diam!

IR-1

Sumber, https://web.facebook.com/IR1untukKaltim/