Kekuasaan itu bisa merubah segalanya, yang baik menjadi tambah baik, menjadi berhati-hati, namun ada pula dari baik menjadi buruk, menjadi dzalim dan diktator. Kekuasaan selalu dijadikan tameng sebagai sebuah takdir atau jalan untuk melindungi yang lain, namun disisi lain menindas yang lainnya.

Lihat saja bagaimana Stalin membunuh rakyatnya sendiri demi alasan membela kekuasaan kelas dan negara, begitupun Hitler, Mao Zedong, Pol Pot, Idi Amin, Kim Jong dan masih banyak tokoh lainnya.

Begitu pun yang kurasa dengan Ratu alias Bunda dari Tiga Naga yaitu Daenerys Targaryen. Bagaimana Ratu yang kukenal cantik dan penuh kelembutan dan kasih sayang tiba-tiba mengatakan rela mengirbankan rakyat demi mewujudkan tujuan kekuasaannya yang diyakininya akan membuat kehidupan di wilayah Seven Kingdom akan lebih baik.

Sepertinya Bunda Daenerys kembali ke karakter asli ayahnya yaitu, Aerys II Targaryen yang dijuluki sebagai Mad King, karena kegilaan kekejamannya semasa berkuasa. Tapi tidak semua kekuasaan seperti itu sebagaimana cintanya Rasulullah SAW pada umatnya, sayangnya Umar RA pada rakyat dan zuhudnya beliau pada kekuasaannya, yang membentang dari Afrika sampai dengan Asia Timur. Umar RA tetap seperti rakyat biasa padahal kekuasaannya menghancurkan kekuasaan Bizantium (Romawi) dan Sasanid (Persia). Dua Imperium terbesar di dunia saat itu.

Begitulah kekuasaan. Pengulangan sejarah kekuasaan itu akan terus terjadi sampai dengan dunia ini musnah. Dulu pun kekuasaan Fira’un cenderung korupsi dan lalim dengan merampas kekayaan rakyatnya.

Maka dalam Islam kekuasaan dan kepemimpinan itu bukanlah kehormatan, melainkan amanat yang harus dipertanggungjawabkan di dunia maupun di hari akhir nanti. Para pemimpin dan penguasa yang amanah akan dimuliakan Allah SWT di dunia dan di akhirat. Insya Allah.

“Apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari itu manusia teringat akan apa yang telah dia kerjakan. Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. Ada pun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at :34-41).

Selamat Berpuasa!

Irwan bin Ridwan