Ketika kabar tentang banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kembali memenuhi ruang pemberitaan, kita seperti diajak berhenti sejenak. Di tanah yang selama ribuan tahun dikenal subur, berlimpah air, dan dikelilingi hutan lebat, air seharusnya hadir sebagai anugerah yang menjaga kehidupan.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, berkali-kali kita menyaksikan air yang mestinya menghidupi justru berubah menjadi kekuatan yang menghancurkan. Merendam permukiman, memutus jalur transportasi, merusak lahan pertanian, bahkan merenggut nyawa.
Bencana yang menimpa ketiga provinsi ini tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga membuka rangkaian pertanyaan yang lebih dalam. Hubungan seperti apa yang sebenarnya tengah terjalin antara kita dan alam? Mengapa tanah yang dulu begitu kokoh kini mudah tergerus?
Mengapa wilayah hulu kehilangan kekuatannya, sementara hilir menanggung beban yang semakin berat? Dan yang paling penting, kapan terakhir kali kita benar-benar mendengar suara alam yang sebenarnya tidak pernah berhenti berbicara?
Banyak dari kita tumbuh dengan petuah sederhana bahwa air adalah kehidupan. Dari orang tua dan para tetua, kita belajar bahwa sungai bukan hanya aliran air, tetapi sumber keberlangsungan hidup. Hutan bukan hanya hamparan pepohonan, tetapi penjaga keseimbangan.
Di banyak budaya di Nusantara, air, tanah, dan hutan dihormati sebagai ruang spiritual, sosial, dan ekologis yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Kearifan lokal mengajarkan kapan hutan boleh dimanfaatkan, bagaimana alur air dijaga, dan bagaimana tanah dilindungi agar tetap mampu menopang kehidupan lintas generasi.
Dalam khazanah Bugis dikenal pula konsep sulappa eppa, empat unsur pembentuk kehidupan, yakni air, tanah, angin, dan api. Hidup yang baik hanya dapat berjalan ketika keempat unsur itu berada dalam keselarasan. Ketika salah satu terganggu, seluruh keseimbangan akan ikut goyah.
Apa yang kita saksikan hari ini seperti memperlihatkan bahwa harmoni itu sedang diuji. Air bergerak dengan cara yang berbeda, tanah kehilangan kekuatannya, angin membawa cuaca yang tak menentu, dan panas bumi berubah lebih cepat dari yang pernah kita kenal. Alam memberi tanda bahwa keseimbangan itu perlu dipulihkan.
Namun sekarang, prinsip keseimbangan itu sering terlupakan. Sungai menyempit, hulu dibuka tanpa batas, dan tata ruang tidak lagi mengikuti kontur alam. Ketika krisis iklim menghadirkan curah hujan ekstrem yang sulit diprediksi, wilayah yang kehilangan tutupan hutan tidak lagi mampu menahan aliran air. Semua itu kemudian tumpah ke hilir dalam bentuk bencana yang kini kembali kita saksikan.
Apa yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat seharusnya menjadi pengingat bahwa krisis iklim bukan konsep abstrak. Krisis itu hadir dalam bentuk banjir bandang yang datang tiba-tiba, longsor yang memutus jalan, dan musim hujan yang makin sulit diprediksi.
Semua terjadi di tengah kehidupan masyarakat yang paling rentan. Krisis iklim bukan lagi wacana di atas kertas. Dampaknya terasa di dapur warga, di ladang mereka, dan dalam keseharian yang semakin tidak menentu.
Karena itu, mitigasi tidak boleh lagi dianggap sebagai pilihan. Kita perlu memperkuat wilayah hulu melalui rehabilitasi hutan dan daerah tangkapan air. Tata ruang harus dibenahi agar tidak memberi celah bagi pembangunan di kawasan rawan bencana. Sungai dan daerah aliran air perlu dipulihkan agar kembali menjalankan fungsi alaminya. Lebih dari semua itu, ekologi harus menjadi dasar perencanaan pembangunan, bukan sekadar pelengkap yang hanya disebut di akhir dokumen.
Namun upaya teknis tidak cukup. Kita juga perlu membangun kembali budaya menghargai alam, sebuah nilai yang pernah menjadi kekuatan besar nenek moyang kita. Saya percaya bahwa bencana bukan hanya menguji kemampuan kita untuk bertahan, tetapi juga menguji kemampuan kita untuk mengambil pembelajaran.
Setiap bencana membawa pesan yang perlu diterjemahkan menjadi langkah konkret. Dalam setiap musibah, ada nilai kebersamaan yang mengingatkan bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian. Namun kebersamaan itu harus ditopang oleh kebijakan yang kuat, ilmu pengetahuan, dan komitmen jangka panjang.
Di tengah semua kejadian ini, saya menyampaikan duka yang mendalam bagi seluruh keluarga yang terdampak bencana. Namun rasa duka saja tidak cukup. Ini adalah saat bagi kita, sebagai sebuah bangsa, untuk memperkuat komitmen merawat bumi.
Lingkungan harus menjadi bagian dari arah pembangunan, bukan sekadar tema tambahan yang hanya disebut ketika bencana datang. Kita perlu memastikan bahwa Indonesia tidak hanya tumbuh menjadi negara yang besar, tetapi juga menjadi negara yang berkelanjutan.
Karena masa depan Indonesia, dari desa kecil di Sumatera hingga kota-kota besar di seluruh Nusantara ditentukan oleh cara kita memperlakukan air, tanah, dan alam pada hari ini. Ketika kita merawat bumi, bumi pun akan merawat kita.
Bang Haji Irwan (Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni SKMA)




Recent Comments